Dasar Akrual dan Dasar Tunai

Dalam akuntansi dikenal dua dasar pencatatan yaitu dasar akrual dan dasar tunai.

  1. Dasar akrual yaitu, akuntansi mengakui pengaruh transaksi pada saat transaksi tersebut terjadi. Apabila terjadi transaksi pemberian jasa, penjualan barang, atau pengeluaran biaya, maka transaksi-transaksi tersebut akan dicatat dalam pembukuan sebagai pendapatan atau biaya, tanpa memandang apakah kas sudah diterima atau dikeluarkan.
  2. Dasar tunai, dalam akuntansi hanya akan dilakukan pencatatan apabila terjadi penerimaan atau pengeluaran kas.

Prinsip Akuntansi Indonesia menghendaki agar perusahaan menggunakan dasar akrual.

Hal ini berarti bahwa pendapatan harus diakui pada saat pendapatan diperoleh, dan biaya diakui pada saat biaya tersebut terjadi-tanpa memandang apakah kas dari transaksi tersebut telah diterima atau dibayar.

Contoh dapat dilihat pada artikel "Praktek Menjurnal, Posting, dan Neraca Saldo" tepatnya transaksi pada tanggal 30 Januari: Tuan Abadi mengakui adanya pendapatan untuk penyerahan jasa yang dilakukan secara kredit.

Tuan Abadi telah memperoleh pendapatan pada saat itu, karena usahanya telah mendatangkan suatu piutang dagang, yaitu suatu tagihan yang sah terhadap si pemesan.

Seandainya Tuan-Abadi menggunakan dasar tunai, maka ia tidak akan mencatat adanya pendapatan pada saat ia menyerahkan pesanan barang cetakan, tetapi tuan Abadi baru akan mengakui adanya pendapatan setelah ia menerima kas dari si pemesan.

Mengapa Prinsip Akuntansi Indonesia menghendaki pemakaian dasar akrual?

Alasannya adalah karena penggunaan dasar akrual akan menghasilkan informasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan penggunaan dasar tunai.

Hal ini penting, karena semakin lengkap data yang disajikan, akan semakin baik informasi yang diterima pengambil keputusan dalam menilai kesehatan keuangan dan prospek perusahaan di masa yang akan datang.

Sebagai misal, dalam contoh Tuan Abadi telah menyelesaikan pesanan sebelum akhir periode akuntansi, tetapi kas dari si pemesan baru diterima setelah melewati akhir periode.

Jika tuan Abadi menggunakan dasar tunai, maka dalam laporan keuangannya tidak akan nampak pendapatan maupun piutang sebagai akibat dari transaksi tersebut.

Akibatnya laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang sesungguhnya.

Pendapatan dan aktiva piutang dagang akan dilaporkan terlalu rendah, sehingga perusahaan kelihatan kurang berhasil dibanding dengan keadaan yang sebenarnya.

Seandainya tuan Abadi akan menggunakan laporan keuangan tersebut untuk meminta kredit ke Bank, maka situasi tersebut bisa merugikan dirinya.

Tuan Abadi juga menerapkan dasar akrual dalam pencatatan biaya.

Sebagai contoh selain biaya gaji yang sudah dibayar termasuk pula gaji yang sudah terutang kepada para pegawai tetapi masih belum dibayar.

Tuan Abadi mengakui kewajiban untuk membayar kepada para pegawainya sebagai biaya gaji, walaupun pada saat itu belum dilakukan pembayaran.

Apabila tuan Abadi menggunakan dasar tunai, maka ia hanya akan mencatat gaji pegawai yang sudah dibayarnya.

Misalkan tuan Abadi belum membayar gaji salah seorang pegawainya, dan laporan keuangan disusun sebelum ia membayar gaji tersebut, maka biaya gaji dan utang gaji akan menjadi lebih rendah dari jumlah yang sesungguhnya, dan perusahaan akan kelihatan lebih berhasil dari keadaan yang sesungguhnya.

Informasi yang tidak lengkap ini akan menghasilkan informasi yang tidak akurat bagi para pemakai laporan.

Konsep yang digunakan dalam dasar akrual adalah periode akuntansi, prinsip pendapatan, dan prinsip mempertandingkan (matching).

Semoga artikel tentang Dasar Akrual dan Dasar Tunai ini mudah dipahami. Amiin...