Minggu, 06 Juli 2014

Aktiva Lancar

Yang dimaksud dengan aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva lain atau sumber-sumber yang diharapkan akan direalisasi menjadi uang kas atau dijual atau dikonsumsi selama siklus usaha perusahaan yang normal atau dalam waktu satu tahun, mana yang lebih lama.

Aktiva Lancar Di dalam neraca, aktiva lancar akan disusun dalam urut-urutan likuiditas, dalam arti yang paling likuid dicantumkan paling atas disusul dengan pos-pos yang kurang likuid dibandingkan dengan pos di atasnya.

Elemen-elemen yang termasuk dalam golongan aktiva lancar adalah:
  • Kas yang tersedia untuk usaha sekarang dan elemen-elemen yang dapat disamakan dengan kas, misalnya cek, money order, pos wesel, dan lain-lain.
  • Surat-surat berharga yang merupakan investasi jangka pendek.
  • Piutang dagang dan piutang wesel.
  • Piutang pegawai, anak perusahaan dan pihak-pihak lain, jika akan diterima dalam jangka waktu satu tahun.
  • Piutang angsuran dan piutang wesel angsuran, jika merupakan hal yang umum dalam perdagangan dan akan dilunasi dalam jangka waktu satu tahun.
  • Persediaan barang dagangan, bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi, bahan-bahan pembantu dan bahan-bahan serta suku cadang yang dipakai dalam pemeliharaan alat-alat / mesin-mesin.
  • Biaya-biaya yang dibayar di muka seperti asuransi, bunga, sewa, pajak-pajak, bahan pembantu dan lain-lain. Ditinjau dari batasan bahwa aktiva lancar itu adalah kas atau aktiva lain yang diharapkan dapat segera diubah menjadi uang, maka sesungguhnya biaya-biaya yang dibayar di muka tidak dapat memenuhi kriteria sebagai aktiva lancar, karena biaya dibayar di muka tidak akan kembali menjadi uang. Tetapi jika tidak dibayar di muka maka biaya-biaya tadi akan dibayar dengan menggunakan sumber aktiva lancar, oleh karena itu maka biaya dibayar di muka dimasukkan dalam kelompok aktiva lancar.

Kamis, 05 Juni 2014

AKTIVA

FASB dalam Concept Nomor 3 - Elements of Financial Statements of Business Enterprises menyatakan bahwa aktiva adalah manfaat ekonomis di masa yang akan datang yang diharapkan akan diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil dari transaksi-transaksi di masa lalu. Suatu aktiva mempunyai tiga sifat pokok:

AKTIVA (a) mempunyai kemungkinan manfaat di masa datang yang berbentuk kemampuan (baik sendiri atau kombinasi dengan aktiva lainnya) untuk menyumbang pada aliran kas masuk di masa datang baik langsung maupun secara tidak langsung,

(b) suatu badan usaha tertentu dapat memperoleh manfaatnya dan mengawasi manfaat tersebut,

(c) transaksi-transaksi yang menyebabkan timbulnya hak perusahaan untuk memperoleh dan mengawasi manfaat tersebut sudah terjadi. Pada umumnya aktiva juga mempunyai sifat-sifat lain seperti diperoleh dengan jumlah sebesar harga perolehan, berwujud, dapat ditukar dengan aktiva lain atau mempunyai kekuatan hukum. Sifat-sifat lain ini tidak mutlak, karena tanpa sifat-sifat ini, suatu elemen dapat berupa aktiva. Misalnya, aktiva dapat diperoleh tanpa cost, dapat juga tidak berwujud dan lain-lain.

Rabu, 04 Juni 2014

Penggolongan Aktiva, Utang dan Modal

Seperti telah kita ketahui aktiva dan utang dikelompokkan dalam kelompok lancar dan tidak lancar. Pengelompokan seperti ini hanyalah merupakan kelompok besar yang akan dirinci lebih lanjut. Susunan aktiva dan pasiva dalam neraca adalah sebagai berikut:

Penggolongan Aktiva, Utang dan Modal Harta-harta / Aktiva:
  • Aktiva lancar
  • Investasi jangka panjang
  • Aktiva tetap berwujud
  • Aktiva tetap tidak berwujud
  • Aktiva / harta lainnya
Utang-utang dan Modal Sendiri :

Utang-utang :
  • Utang-utang lancar
  • Pendapatan yang diterima di muka
  • Utang-utang jangka panjang
  • Utang-utang lain
Modal sendiri:
  • Modal saham yang disetor
  • Agio / disagio saham
  • Cadangan-cadangan
  • Laba tidak dibagi
Masing-masing golongan di atas akan diuraikan dalam artikel-artikel selanjutnya.

Kamis, 29 Mei 2014

NERACA

Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu. Keadaan keuangan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut pasiva, atau dengan kata lain, aktiva adalah investasi di dalam perusahaan dan pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut.

NERACA Oleh karena itu, dapat dilihat dalam neraca bahwa jumlah aktiva akan sama dengan jumlah pasiva, di mana pasiva itu terdiri dari dua golongan kewajiban yaitu kewajiban kepada pihak luar yang disebut utang dan kewajiban terhadap pemilik perusahaan yang disebut modal. Bila disusun dalam bentuk persamaan maka akan nampak bahwa:

AKTIVA = UTANG + MODAL

Dalam pengertian aktiva, selain barang-barang dan hak-hak yang dimiliki, di dalamnya termasuk juga biaya-biaya yang belum dibebankan dalam periode yang bersangkutan, tetapi akan dibebankan pada periode-periode yang akan datang. Oleh karena itu, di dalam judul aktiva akan termasuk juga pos-pos kas, tagihan-tagihan, surat-surat berharga (merupakan sumber uang) dan pengeluaran-pengeluaran yang akan memberi manfaat di masa yang akan datang, sehingga pembebanannya juga ditunda seperti aktiva tetap, hak paten dan persekot-persekot biaya.

Utang merupakan milik kreditur yang ditanamkan dalam perusahaan dan jumlah-jumlah ini merupakan kewajiban perusahaan yang harus dilunasi. Cara pelunasan utang ini bermacam-macam, bisa dengan uang ataupun dibayar dengan barang dan jasa.

Modal menunjukkan jumlah milik para pemilik yang ditanamkan dalam perusahaan. Jumlah ini timbul dalam setoran para pemilik dan perubahan-perubahan nilai aktiva yang terjadi karena hasil usaha perusahaan. Modal ini bukan merupakan jumlah yang harus dilunasi, tetapi dalam hal likuidasi, para pemilik baru menerima pelunasan sesudah para kreditur dilunasi.

Elemen-elemen dalam neraca biasanya dikelompokkan dalam suatu cara yang tujuannya adalah untuk memudahkan analisa. Biasanya aktiva dan utang akan dikelompokkan dalam kelompok lancar (jangka pendek) dan tidak lancar (tetap). Pengelompokan seperti ini akan memungkinkan dihitungnya modal kerja perusahaan yaitu selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar.

Minggu, 15 Desember 2013

Pencatatan dengan Perkiraan

Suatu transaksi dicatat ke dalam perkiraan dengan menerapkan aturan debet dan kredit. Untuk itu setiap transaksi perlu diteliti terlebih dahulu sebelum dicatat. Urut-urutan untuk meneliti (menganalisa) setiap transaksi adalah sebagai berikut:

Pencatatan dengan Perkiraan
  1. Tentukan pengaruh transaksi terhadap penambahan atau pengurangan aktiva, hutang, modal, pendapatan, atau biaya.
  2. Tentukan perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut. Pergunakan bagan perkiraan untuk menentukan perkiraan-perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi.
  3. Tentukan apakah sebagai akibat adanya transaksi tadi perkiraan tersebut harus didebet atau dikredit. Pergunakan aturan debet dan kredit untuk hal ini. Tentukan jumlah yang harus didebet dan dikredit.
  4. Jumlah debet dan kredit dicatat dalam perkiraan yang bersangkutan.
Penting diperhatikan bahwa untuk setiap transaksi paling tidak ada dua perkiraan yang akan dipengaruhi dan juga setiap transaksi akan mempengaruhi jumlah debit dan jumlah kredit yang sama.

Selasa, 26 November 2013

Pembukuan Berpasangan

Sistem pencatatan transaksi-transaksi keuangan dalam suatu perusahaan disebut pembukuan atau memegang buku. Pemakaian rekening (perkiraan) dimaksudkan untuk dapat menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dan perubahan-perubahan serta sebab-sebab yang mengakibatkan perubahan pada kondisi keuangan perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini, sistem yang dianggap paling memuaskan adalah sistem pembukuan berpasangan.

Pembukuan Berpasangan Di dalam sistem pembukuan berpasangan setiap transaksi keuangan yang terjadi selalu dicatat dengan cara sedemikian rupa sehingga jelas pengaruhnya terhadap aktiva, hutang, modal, pendapatan, dan biaya. Prinsip utama sistem ini adalah bahwa setiap transaksi selalu dicatat dengan mendebet dan mengkredit dua buah rekening atau lebih dengan jumlah yang sama.

Dengan demikian setiap transaksi paling sedikit akan berpengaruh terhadap dua buah rekening, yaitu satu rekening didebet dan satu rekening dikredit. Apabila perusahaan menggunakan sistem pembukuan berpasangan, maka transaksi tidak mungkin dicatat hanya dengan mendebet atau mengkredit saja. Demikian artikel Seputar Akuntansi tentang pembukuan berpasangan. Semoga bermanfaat.

Kamis, 07 November 2013

Saldo Normal

Jumlah penambahan yang dicatat dalam suatu perkiraan biasanya sama atau lebih besar dari jumlah pengurangannya. Oleh karena itu, saldo normal suatu perkiraan adalah positif. Misalnya, jumlah debet (pertambahan) pada perkiraan aktiva biasanya lebih besar dari pada jumlah kredit (pengurangan) nya. Oleh karena itu perkiraan aktiva biasanya mempunyai saldo debet. Tentu saja ada kemungkinan di mana jumlah debet dan jumlah kredit adalah sama. Dan dalam keadaan ini perkiraan tersebut dikatakan "seimbang".

Saldo Normal Bila sebuah perkiraan yang biasanya mempunyai saldo debet, ternyata bersaldo kredit, atau sebaliknya, maka hal ini merupakan petunjuk adanya suatu kesalahan, atau keadaan-keadaan yang luar biasa. Misalnya, saldo kredit yang terdapat pada perkiraan peralatan kantor hanya mungkin disebabkan oleh kesalahan pencatatan. Sebaliknya, saldo debit pada perkiraan hutang dagang bisa berasal dari kelebihan pembayaran.

Aturan debet-kredit dan saldo normal untuk macam-macam perkiraan dapat diikhtisarkan sebagai berikut:

Jenis Perkiraan Pertambahan Pengurangan Saldo normal

AktivaDebetKreditDebet
HutangKreditDebetKredit
ModalKreditDebetKredit
PriveDebetKreditDebet
PendapatanKreditDebetKredit
BiayaDebetKreditDebet

Perlu diperhatikan bahwa semua transaksi hanya dicatat sehubungan dengan pengaruh debet-kreditnya terhadap perkiraan tertentu. Jadi, jika suatu aktiva (katakanlah kas) bertambah maka perkiraan yang bersangkutan di debet. Sebaliknya bila kas berkurang, perkiraannya di kredit.

Rabu, 09 Oktober 2013

Aturan Debet dan kredit

Dalam artikel ini akan dijelaskan aturan pendebetan dan pengkreditan perkiraan-perkiraan (rekening) riil dan perkiraan-perkiraan nominal.

Aturan Debet dan Kredit Perkiraan Riil

Pada perkiraan aktiva sisi sebelah kiri perkiraan digunakan untuk mencatat pertambahan dan sisi kanan digunakan untuk mencatat pengurangan. Sedangkan pada perkiraan hutang dan modal adalah berlawanan dengan perkiraan aktiva, sisi kanan untuk mencatat pertambahan dan sisi kiri untuk mencatat pengurangan.

Aturan Debet dan kredit Untuk semua jenis perkiraan, baik perkiraan-perkiraan aktiva, kewajiban, hutang, maupun modal, sisi kiri disebut sisi debet dan sisi kanan disebut sisi kredit. Dengan demikian, sisi debet bisa menunjukkan pertambahan dan bisa juga pengurangan, tergantung pada jenis perkiraannya. Begitu pula sisi kredit bisa menunjukkan penambahan atau pengurangan. Aturan pendebetan dan pengkreditan untuk perkiraan-perkiraan riil dinyatakan sebagai berikut:


DEBET:
  1. Pertambahan (+) untuk perkiraan aktiva.
  2. Pengurangan (-) untuk perkiraan hutang.
  3. Pengurangan (-) untuk perkiraan modal.
KREDIT:
  1. Pengurangan (-) untuk perkiraan aktiva.
  2. Pertambahan (+) untuk perkiraan hutang.
  3. Pertambahan (+) untuk perkiraan modal.
Aturan Debet dan Kredit Perkiraan Nominal

Aturan pendebetan dan pengkreditan untuk perkiraan-perkiraan pendapatan dan biaya, didasarkan pada hubungan antara perkiraan-perkiraan tersebut terhadap modal. Laba bersih atau rugi bersih dalam suatu periode seperti yang nampak dalam laporan rugi laba, merupakan pertambahan bersih atau pengurangan bersih atas modal.

Agar pengumpulan data untuk menyusun laporan rugi-laba dapat dilakukan dengan mudah maka dalam buku besar harus dibuat perkiraan-perkiraan untuk mencatat pendapatan dan biaya. Perkiraan pendapatan menambah modal sedangkan biaya mengurangi modal. Perkiraan modal bertambah pada sisi kredit sedangkan perkiraan modal berkurang pada sisi debet. Maka dalam hubungannya dengan perkiraan modal, aturan debet dan kredit perkiraan nominal (pendapatan dan biaya) adalah sebagai berikut:

DEBET:
  1. Pertambahan (+) untuk perkiraan biaya.
  2. Pengurangan (-) untuk perkiraan pendapatan.
KREDIT:
  1. Pengurangan (-) untuk perkiraan biaya.
  2. Pertambahan (+) untuk perkiraan pendapatan.
Pada akhir periode akuntansi, saldo perkiraan modal dan biaya dilaporkan dalam laporan rugi-laba. Saldo perkiraan nominal dalam buku besar kemudian dipindahkan ke perkiraan ringkasan pendapatan dan biaya yang disebut perkiraan Rugi-laba. Saldo perkiraan Rugi-laba yang menggambarkan laba atau rugi periode yang bersangkutan kemudian dipindahkan ke perkiraan modal. Saldo perkiraan-perkiraan aktiva, hutang dan modal dilaporkan dalam neraca, dan saldo perkiraan ini akan dibawa ke periode akuntansi berikutnya.

Jadi jelaslah bahwa saldo perkiraan pendapatan dan biaya akan berakhir pada perkiraan Rugi-laba yang selanjutnya akan dipindahkan ke perkiraan modal sehingga tidak ada saldo perkiraan nominal yang dibawa ke periode akuntansi berikutnya, sedangkan saldo-saldo perkiraan riil pada akhir periode akan dibawa ke periode akuntansi berikutnya sebagai saldo awal. Demikian artikel seputar akuntansi tentang aturan debet dan kredit perkiraan riil dan nominal.

Minggu, 04 Agustus 2013

Perkiraan Prive

Pemilik perusahaan perseorangan atau sekutu-sekutu dari suatu persekutuan, biasanya secara periodik mengambil uang atau barang dagangan dari perusahaannya untuk keperluan pribadi. Pengambilan barang atau uang semacam ini disebut pengambilan prive (drawing). Pengambilan prive menyebabkan modal pemilik berkurang.

Perkiraan Prive Oleh karena itu pengambilan prive dapat dicatat dengan mendebet perkiraan modal. Namun demikian pada umumnya perusahaan menyelenggarakan suatu perkiraan khusus yang disebut perkiraan prive. Pendebetan atas perkiraan prive sama artinya dengan mengurangi modal. Dalam hal ini perkiraan prive seolah-olah sama dengan perkiraan biaya. Akan tetapi antara prive dan biaya terdapat perbedaan yang mendasar, sebab prive bukan merupakan elemen biaya yang mengurangi pendapatan.

Prive biasanya merupakan pengambilan kas atau barang lain yang dilakukan oleh pemilik sebagai pemgambilan bagian keuntungan perusahaan. Sisi kredit perkiraan prive digunakan untuk mencatat laba (atau bagian laba) yang menjadi hak pemilik perusahaan. Ini berarti bahwa pengkreditan atas perkiraan prive akan menambah modal pemilik.

Jumat, 02 Agustus 2013

Prinsip-Prinsip Akuntansi

Pada artikel Seputar Akuntansi kali ini saya akan menulis tentang Prinsip-prinsip Akuntansi. Informasi akuntansi harus disusun dan dilaporkan secara obyektif agar bermanfaat bagi para pemakainya. Oleh karena itu akuntansi keuangan harus didasarkan pada standar atau pedoman tertentu yang telah teruji dan dapat diterima umum. Standar-standar ini dikenal dengan nama prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum.

Prinsip-Prinsip Akuntansi Mengingat bahwa akuntansi lebih merupakan suatu seni dari pada ilmu (sains), maka prinsip-prinsip ini tidak merupakan hukum-hukum mutlak sebagaimana yang dijumpai dalam ilmu pasti. Prinsip-prinsip akuntansi yang lebih merupakan suatu pedoman bertindak dan bisa berubah dari waktu ke waktu. Suatu prinsip bisa saja dihapuskan dan diganti dengan yang baru untuk menyesuaikan dengan perkembangan perekonomian atau praktek-praktek yang berlaku.

Prinsip-prinsip akuntansi harus dirumuskan oleh suatu badan yang kompeten. Di Indonesia prinsip-prinsip tersebut ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) yang merupakan satu-satunya badan yang berwenang untuk membuat peraturan-peraturan di bidang akuntansi.

Prinsip-prinsip akuntansi Indonesia terdiri atas sejumlah aturan yang menjadi pedoman bertindak dalam melaksanakan akuntansi di Indonesia dan akan berkembang di masa yang akan datang. Dari sekian banyak aturan yang terdapat dalam prinsip akuntansi Indonesia, di sini akan dibahas tiga aturan saja, yaitu konsep entitas, prinsip obyektivitas, dan prinsip cost (biaya).
  • Konsep Entitas. Konsep yang paling mendasar di dalam akuntansi adalah konsep entitas (kesatuan usaha). Kesatuan usaha akuntansi adalah suatu organisasi atau bagian dari organisasi yang berdiri sendiri, terpisah dari organisasi lain atau individu lain. Ditinjau dari segi akuntansi, antara kesatuan usaha yang satu dengan kesatuan usaha yang lain atau dengan pemiliknya terdapat garis pemisah yang tegas. Ini berarti bahwa kejadian keuangan yang menyangkut suatu kesatuan usaha tidak boleh dicampur dengan kesatuan usaha lain atau dengan pemiliknya, dan sebaliknya. Konsep ini penting artinya dalam menilai keadaan keuangan dan hasil usaha yang dicapai suatu organisasi atau bagian dari organisasi. Tanpa konsep ini maka laporan keuangan akan menjadi kacau, karena apa yang tercantum dalam laporan keuangan suatu organisasi mungkin dimasuki kejadian-kejadian keuangan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan organisasi tersebut.
  • Prinsip Obyektivitas. Catatan dan laporan akuntansi harus didasarkan pada data yang bisa dipercaya sebagai laporan yang menyajikan informasi yang tepat dan berguna. Data yang bisa dipercaya adalah data yang bisa diverifikasi (diperiksa kebenarannya). Data semacam itu harus bisa dikonfirmasi oleh pengamat yang independen. Oleh karena itu catatan akuntansi harus didasarkan pada informasi yang berawal dari kegiatan yang didokumentasi dalam bentuk bukti yang obyektif. Seandainya akuntansi tidak mengenal prinsip obyektivitas, maka pencatatan akuntansi akan didasarkan pada hal-hal yang tidak obyektif dan bisa mengakibatkan kekacauan.
  • Prinsip cost (biaya). Prinsip cost atau prinsip biaya menetapkan bahwa harta atau jasa yang dibeli atau diperoleh harus dicatat atas dasar biaya yang sesungguhnya. Meskipun pembeli tahu bahwa harga mungkin masih bisa ditawar, tetapi barang atau jasa yang dibeli akan dicatat dengan harga yang sesungguhnya disepakati dalam transaksi yang bersangkutan.
Demikian informasi Seputar Akuntansi kali ini tentang Prinsip-Prinsip Akuntansi, jika ada kesalahan mohon dibetulkan.

Minggu, 28 Juli 2013

Hubungan Akuntansi Dengan Bidang-bidang Lain

Sesuai dengan janji saya kemarin, pada artikel saya kali ini akan membahas tentang hubungan akuntansi dengan bidang-bidang lain. Mereka yang bekerja di bagian keuangan, produksi, pemasaran, kepegawaian dan direksi tidak perlu seorang yang ahli di bidang akuntansi. Tetapi efektivitas mereka akan bertambah, bila mereka mengetahui tentang prinsip-prinsip akuntansi.

Hubungan Akuntansi Dengan Bidang-bidang Lain Mereka yang terjun dalam kegiatan perusahaan dari pekerja paling rendah sampai pada manajemen dan pemilik, selalu berhubungan dengan akuntansi. Makin tinggi tingkat wewenang dan tanggung jawab seseorang dalam struktur organisasi perusahaan, makin banyak konsep-konsep dan istilah-istilah akuntansi yang perlu diketahui.

Pihak-pihak yang tidak berkecimpung dalam dunia usaha juga menggunakan informasi akuntansi. Oleh karena itu, mereka perlu mengetahui prinsip dan istilah-istilah akuntansi. Misalnya, seorang insinyur yang diberi tugas memilih tehnik produksi yang paling baik, akan memerlukan informasi tentang biaya sebagai faktor yang menentukan.

Ahli hukum menggunakan informasi akuntansi dalam hal pajak dan tuntutan-tuntutan hukum yang berhubungan dengan hak milik harta dan pemutusan kontrak. Badan-badan Pemerintah menggantungkan pada informasi akuntansi dalam hal menilai efisiensi kegiatan yang dilaksanakan dan kewajaran rencana-rencana yang diusulkan.

Pada akhirnya, semua orang akan berhubungan dengan transaksi usaha sehingga harus memperhatikan aspek keuangan yang terdapat dalam dirinya sendiri dan mungkin juga aspek keuangan pihak lain. Akuntansi memegang peranan penting dalam masyarakat modern, sehingga secara lebih luas dapat dikatakan bahwa semua warga masyarakat dipengaruhi oleh akuntansi.

Makin dekat hubungannya dengan kegiatan yang bersifat keuangan, makin besar kebutuhan untuk mengerti konsep dan istilah akuntansi. Demikian artikel seputar akuntansi yang membahas tentang hubungan akuntansi dengan bidang-bidang lain. Semoga bisa bermanfaat.

Selasa, 23 Juli 2013

Perkiraan Sebagai Alat Pencatatan

Perkiraan atau kadang disebut rekening adalah suatu alat untuk mencatat transaksi-transaksi keuangan yang bersangkutan dengan aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya. Tujuan pemakaian perkiraan adalah untuk mencatat data yang akan menjadi dasar penyusunan laporan-laporan keuangan. Perkiraan atau rekening memberikan informasi tentang operasi-operasi perusahaan dari hari ke hari.

Perkiraan Sebagai Alat Pencatatan Sebagai contoh misalnya dari rekening dapat diketahui jumlah piutang perusahaan kepada para debitur, jumlah kewajiban perusahaan kepada kreditur, harga beli aktiva yang dimiliki perusahaan, sumber-sumber dan besarnya pendapatan. Dengan menggunakan perkiraan maka transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat dicatat secara tepat dan lengkap.

Jumlah perkiraan yang perlu diadakan dalam pembukuan suatu perusahaan tergantung kepada kebutuhan. Kumpulan perkiraan yang digunakan dalam pembukuan suatu perusahaan disebut "buku besar atau ledger". Buku besar dapat berupa sebuah "buku" yang halaman-halamannya berfungsi sebagai perkiraan, atau bisa juga berupa kumpulan kartu.

Dalam buku besar biasanya perkiraan-perkiraan disusun dengan urutan tertentu, yaitu perkiraan-perkiraan untuk neraca disusun paling depan, dan sesudah itu barulah perkiraan-perkiraan yang akan dicantumkan dalam laporan rugi laba.

Kamis, 18 Juli 2013

Klasifikasi Perkiraan

Perkiraan dalam buku besar biasanya diklasifikasikan menurut sifat-sifatnya sebagai aktiva, kewajiban, modal, pendapatan dan atau biaya. Perkiraan-perkiraan tersebut juga dapat diklasifikasikan lagi dalam kategori-kategori yang lebih luas. Dalam artikel ini akan dibahas klasifikasi perkiraan pada sebuah perusahaan kecil. Pengklasifikasian perkiraan-perkiraan dilakukan sesuai dengan ketentuan bahwa transaksi-transaksi akuntansi di samping dicatat juga harus digolong-golongkan.

Klasifikasi Perkiraan Penggolong-golongan transaksi berarti bahwa transaksi-transaksi yang mempunyai sifat yang sama harus dilaporkan sebagai satu kesatuan. Misalnya pada Perusahaan X, apabila selama bulan Maret 2012 telah dibeli perlengkapan sebanyak sepuluh kali, maka semua pembelian perlengkapan ini harus dicatat dalam satu kelompok transaksi yang disebut "perlengkapan".

Perkiraan Neraca atau biasa disebut perkiraan riil,

Perkiraan neraca atau perkiraan riil adalah perkiraan-perkiraan yang pada akhir periode akan dilaporkan di dalam neraca. Yang termasuk dalam perkiraan neraca adalah aktiva (harta), kewajiban (hutang), dan modal. Contoh perkiraan aktiva adalah kas, wesel tagih, piutang dagang atau piutang usaha, perlengkapan, biaya dibayar di muka, peralatan, tanah, gedung, mesin, kendaraan.

Perkiraan kewajiban di antaranya wesel bayar, hutang dagang atau hutang usaha, hutang bank, hutang gaji, hutang bunga, hutang pajak, hutang hipotek, hutang obligasi. Perkiraan modal mencakupi modal Tuan Y, prive Tuan Y. Perkiraan prive digunakan untuk mencatat pengambilan-pengambilan uang yang dilakukan oleh pemilik dan digunakan untuk keperluan pribadinya.

Perkiraan Rugi laba atau biasa disebut perkiraan nominal

Perkiraan rugi laba atau perkiraan nominal adalah perkiraan-perkiraan yang pada akhir periode akan dilaporkan dalam laporan rugi laba. Yang termasuk dalam perkiraan rugi laba adalah pendapatan dan biaya. Pendapatan dapat berasal dari bermacam-macam kegiatan, misalnya penjualan barang, pemberian jasa, penyewaan aktiva, peminjaman uang atau kegiatan-kegiatan lain dalam rangka usaha dan tujuan memperoleh laba. Perkiraan-perkiraan yang termasuk dalam klasifikasi ini dapat diberi nama penjualan, upah jasa, pendapatan jasa, pendapatan bunga atau pendapatan sewa.

Jika suatu perusahaan mempunyai beberapa jenis pendapatan, maka masing-masing dicatat dalam perkiraan yang terpisah. Biaya yang terjadi untuk memperoleh pendapatan juga dapat bermacam-macam. Luasnya pengelompokan dan banyaknya perkiraan biaya berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Hal ini tergantung pada sifat dan besarnya perusahaan. Contoh perkiraan biaya adalah biaya gaji, biaya perlengkapan, biaya listrik, air telepon, biaya penyusutan, biaya bunga, biaya sewa, biaya serba-serbi. Demikian artikel seputar akuntansi tentang klasifikasi perkiraan.